Minggu, 3 Maret 2024

Ini Dia Serangga Chochineal Bahan Pewarna Makanan Karmin

Ali Muntoha
Kamis, 28 September 2023 09:34:00
Serangga Cochineal bahan dasar pewarna karmin. (istimewa/kepoinkuy)

Murianews, Kudus – Serangga chochineal kini tengah menjadi perbincangan. Ini setelah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur menghukumi pewarna makanan karmin haram dan najis.

Serangga chochineal merupakan bahan dasar pembuatan pewarna makanan karmin. Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) PWNU Jatim menyebut bangkai serangga (hasyarat) tidak boleh dikonsumsi karena najis dan menjijikkan. Penggunaan karmin untuk lipstik juga dihukumi najis.

Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2011 lalu telah mengeluarkan fatwa jika serangga chochineal sebagai bahan pewarna makanan halal.

Lalu apa itu serangga chochineal?

Dikutip Murianews.com dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika MUI (LPPOM MUI) chochineal merupakan binatang yang mempunyai banyak persamaan dengan belalang dan darahnya tidak mengalir.

Cochineal merupakan serangga yang hidup di atas kaktus dan makan pada kelembaban dan nutrisi tanaman

Bangkai serangga chochineal yang dihancurkan digunakan sebagai pewarna alami di industri makanan dan minuman. Pewarna ini disebut karmin atau carmyne.

Prof Sedarnawati Yasni, auditor halal LPPOM MUI menerangkan, karmin dibuat dari serangga Cochineal (Dactylopius coccus) atau kutu daun yang menempel pada kaktus pir berduri (genus Opuntia).

Serangga jenis ini banyak ditemukan di Amerika Tengah dan Selatan. Saat ini Peru dikenal sebagai penghasil karmin terbesar di dunia, mencapai 70 ton per tahun. Kaktus digunakan sebagai sumber makan cochineal pada kelembaban dan nutrisi tanaman.

Untuk mengolah cochineal menjadi pewarna, kata Sedarnawati serangga cochieneal dijemur hingga kering lalu dihancurkan dengan mesin. Setelah itu, jadilah serbuk berwarna merah tua cerah.

Untuk menonjolkan aspek warna yang diinginkan, biasanya ekstrak cochineal ini dicampur dengan larutan alkohol asam untuk lebih memunculkan warna.

Muti Arintawati mengingatkan bahwa penggunaan pewarna juga membutuhkan adanya bahan pelarut, bahan pelapis, hingga bahan pengemulsi agar warna semakin cerah, tidak mudah pudar, dan stabil.

Bahan pelarut dapat menggunakan bahan etanol, triacetin atau gliserin. Gliserin salah satunya dapat dihasilkan dari proses hidrolisis lemak hewani.

Bahan pelapis dapat menggunakan sumber gelatin, yang umumnya berasal dari gelatin hewani. Bahan pengemulsi dapat menggunakan turunan asam lemak yang berasal dari asam lemak hewani.

”Mengingat bahan tambahan pada pewarna alami tersebut banyak menggunakan bahan dari hewan, maka harus dipastikan bahwa bahan tersebut berasal dari hewan halal yang diproses secara halal,” ujarnya.

 

Komentar