Minggu, 3 Maret 2024

Diakui UNESCO, Sejarah Jamu Terlihat di Relief Candi Borobudur

Ali Muntoha
Minggu, 10 Desember 2023 12:24:00
Ilustrasi: Jamu gendong. (surakarta.go.id)

Murianews, Kudus – Jamu, ramuan obat tradisional resmi diakui dunia. Jamu kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh UNESCO.

Sejarah jamu di Nusantara ini sangat panjang. Jamu dianggap sudah eksis sejak abad ke-8 Masehi.

Istilah jamu dipercaya berasal dari dua kata Jawa Kuna, Djampi yang bermakna penyembuhan dan Oesodo yang bermakna kesehatan.

Istilah Jamu diperkenalkan ke publik lewat orang-orang yang dipercaya punya ilmu pengobatan tradisonal atau dukun. Jamu juga dipercaya menjadi rahasia kesehatan para raja dan pendekar.

Sejarah jamu di Indonesia terlihat dari sejumlah prasasti dan relief yang ada di Candi Borobudur.

Dikutip dari Jatengprov.go.id, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Jamu Jateng, Stefanus Handoyo Saputro mengatakan, inskripsi jamu terpahat dalam relief Karmawibhangga, yang terdapat di Candi Borobudur.

Adapula relief di Candi Rimbi tahun 1329 Masehi, Prasasti Madhawapura 1305 Masehi, Serat Centhini 1814 Masehi, dan Situs Liyangan 800 Masehi.

Dilansir dari laman Kemendikbud, data artefaktual di bidang kesehatan terutama mengenai pengobatan pada masa Jawa Kuna terdapat pada relief Karmawibhangga Candi Borobudur.

”Ungkapan unsur-unsur pada relief dapat memberikan petunjuk tentang perkembangan budaya, teknik, seni, religi, keadaan sosial masa lalu, bahkan mengenai kesehatan masyarakat Jawa kuna,” tulis keterangan di laman kemendikbud.

Relief Pengobatan Jawa Kuna

Proses pengobatan Jawa kuna menggunakan jamu tergambar dalam sejumlah panel di relief Karmawibhangga Candi Borobudur.

Pada relief Karmawibhangga yang panel 18 menggambarkan seorang laki-laki mendapat perawatan beberapa wanita, ada yang memijat kepalanya, memegang tangan dan kakinya. Orang-orang di sekitarnya tampak bersedih.

Pada panel 19 dalam relif Candi Borobudur menunjukkan adegan beberapa orang yang sedang memberikan pertolongan pada seorang laki-laki yang sedang sakit.

Ada yang memijat kepalanya, menggosok perut serta dadanya, juga ada seseorang yang membawa obat. Di sampingnya terdapat adegan yang memperlihatkan suasana bersyukur atas kesembuhan seseorang.

Pada panel 78 juga terdapat adegan yang sama yaitu seorang wanita sedang memegang lengan laki-laki yang sedang sakit, sementara adegan yang lain beberapa orang sedang mengobati dua orang laki-laki sakit kepala dengan cara memegang kepalanya.

Sementara dilansir dari laman Indonesia.go.id, sejak masa Mataram perempuan lebih berperan dalam memproduksi jamu, sedangkan pria berperan mencari tumbuhan herbal alami.

Fakta itu diperkuat dengan adanya temuan artefak Cobek dan Ulekan, alat tumbuk untuk membuat jamu. Artefak itu bisa dilihat di situs arkeologi Liyangan yang berlokasi di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah.

Selain artefak Cobek dan Ulekan, ditemukan juga bukti-bukti lain seperti alat-alat membuat jamu yang banyak ditemukan di Yogyakarta dan Surakarta, tepatnya di Candi Borobudur pada relief Karmawipangga, Candi Prambanan, Candi Brambang, dan beberapa lokasi lainnya.

Seiring perkembangannya, tradisi minum Jamu sempat mengalami penurunan. Terutama saat pertama kali ilmu modern masuk ke Indonesia.

Saat itu kampanye obat-obatan bersertifikat sukses mengubah pola pikir masyarakat Indonesia sehingga minat terhadap Jamu menurun. Selain soal standar atau sertifikat, khasiat dari Jamu pun turut dipertanyakan.

Pada masa penjajahan Jepang, sekitar tahun 1940-an, tradisi minum Jamu kembali populer karena telah dibentuknya komite Jamu Indonesia. Berjalannya waktu, penjualan Jamu pun menyesuaikan dengan teknologi, di antaranya telah banyak dikemas dalam bentuk pil, tablet, atau juga bubuk instan yang mudah diseduh.

Tahun 1974 hingga 1990 banyak berdiri perusahaan Jamu dan semakin berkembang. Pada era itu juga ramai diadakan pembinaan-pembinaan dan pemberian bantuan dari Pemerintah agar pelaku industri Jamu dapat meningkatkan aktivitas produksinya.

Perkembangan Jamu di Jateng

Stafanus Handoyo menyebut, Industri jamu di Indonesia, berkembang jauh sebelum pengumuman Kemerdekaan RI.

Dimulai pada 1820 Masehi dari sebuah industri rumahan di Jateng, kemudian menyebar ke pulau lain di Indonesia. Pada 1900, tumbuh industri jamu yang menjadi pabrik-pabrik besar, seperti Jamu Jago, Nyonya Meneer, Sido Muncul, Jamu Borobudur, Jamu Dami, hingga Jamu Air Mancur.

Kini, jumlah industri ekstrak bahan alam di Jateng ada tujuh, industri obat tradisional (IOT) ada 16, termasuk di dalamnya Sido Muncul, Jamu Jago, Borobudur, Deltomed dan Air Mancur.

Usaha Kecil Obat Tradisional tercatat ada 153 unit, Usaha Mikro Obat Tradisional ada 264 unit.

Selain itu, ada pula ribuan jamu gendong, yang kebanyakan ada di Sukoharjo, Demak, Banyumas, dan sebagainya.

Komentar