Minggu, 3 Maret 2024

Sejarah di Balik Nama Maling Mati, Sebuah Wilayah di Pacitan

Zulkifli Fahmi
Jumat, 15 September 2023 15:30:00
Gapura masuk wilayah Maling Mati, Pacitan. (Istimewa/ketik.co.id)

Murianews, Pacitan – Di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur terdapat sebuah wilayah yang cukup unik, yakni Maling Mati. Wilayah ini berada di Kelurahan Pucangsewu, Kecamatan Pacitan.

Apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, maling mati berarti pencuri mati. Ternyata, penamaan wilayah ini berkaitan dengan peristiwa yang terjadi tempo dulu.

Melansir Suara.com, Jumat (15/9/2023), penamaan wilayah itu tak jauh dari nama peristiwa yang terjadi di sana. Di mana, ada seorang pencuri yang mati karena tertangkap dan dihakimi massa.

Menurut cerita sesepuh wilayah tersebut Kyai Tugiyat (83), dulunya terdapat pencuri yang sangat meresahkan masyarakat di wilayah tersebut. Pencuri itu sangat licin dan lihai.

Suatu hari, sang pencuri berhasil ditangkap warga dan dihakimi hingga dihukum mati. Jasadnya pun dikubur secara layak oleh warga setempat.

Namun, seiring waktu berjalan terror pencurian kembali muncul. Pelaku pun lebih lihai, karena sangat cepat berpintah dari satu tempat ke tempat lain.

Suasana wilayah itu menjadi mencekam. Tak ada masyarakat yang berani keluar saat terror pencurian itu. Di saat bersamaan, jasad pencuri yang sebelumnya dihukum mati hilang. Warga pun curiga pencuri yang kini meneror merupakan pelaku yang sama dengan sebelumnya.

”Orang pintar masa itu menduga sang pencuri adalah orang sakti, mungkin pengguna Ilmu Rawa Rontek, yang memiliki kekuatan untuk kembali hidup meskipun nyawanya telah direnggut,” katanya, dikutip dari Suara.com, Jumat (15/9/2023).

Untuk diketahui, ajian Rawa Rontek dipercaya penggunanya sulit mati. Orang yang mengamalkan ilmu ini tidak bisa mati selama jasadnya tetap berada di satu tempat yang tidak dipisahkan sungai.

Keamanan pun diperketat. Warga kemudian merancang taktik untuk meringkus sang maling sakti tersebut. Pengejaran dilakukan hingga ke pelosok Pacitan.

Singkat cerita, sang pencuri tersebut akhirnya berhasil ditangkap. Dan ternyata benar, pelakunya sama dengan pencuri yang sebelumnya tertangkap dan dihukum mati.

Pelaku kemudian menjadi bulan-bulanan dan dihukum mati dengan cara dipenggal kepalanya. Jasad pencuri itu kemudian dimakamkan di dua tempat yang berbeda, yakni di wilayah Blimbing dan yang kini dikenal sebagai Maling Mati.

Tugiyat mengungkapkan, di wilayahnya ada satu makam yang diyakini menjadi bukti asal usul sebutan Maling Mati. Lokasinya sekitar 700 meter dari area masjid. Cerita tersebut sudah turun temurun dikisahkan oleh para tetua di wilayah tersebut.

”Sejak saya kecil memang disini dikenal dengan Lingkungan Blimbing Daerah Maling Mati hingga sekarang. Dari sebelum bapak saya yang menceritakan,” katanya.

Komentar