Soal ini disinggung oleh Greg Poulgrain dalam buku karyanya 'The Incubus of Intervention, Conflicting Indonesia Strategies of John F Kennedy and Allen Dulles'. Greg mengulasnya, kenapa sampai akhirnya diketahui ada emas di Papua.
Cerita tentang emas di Papua dimulai dari sosoak Jean Jacquez Dozy, seorang geolog asal Belanda, yang bertugas di Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM), Babo, Papua Barat, pertengahan 1936.
Saat berada di kantornya, Jean konon dibuat jengkel, lantaran adanya berita mengenai rencana orang-orang Jepang yang ingin mencapai puncak Cartensz (Jaya Wijaya) di Papua. Berita ini membuatnya terusik.
Berikutnya, Jean Jacquez Dozy dan dua rekannya AH Colijn dan Franz Wissel langsung menyusun rencana. Mereka ingin mendahului apa yang direncanakan orang-orang Jepang ini.
"Sehingga disepakati bahwa mereka sebagai orang Belanda harus menjadi orang pertama yang mendaki Gunung Cartensz," demikia disebutkan Greg Poulgrain dalam buku karyanya.
Dozy adalah ahli geologi minyak dan bumi, sementara, Colijn adalah manajer anak perusahaan Royal Ducth Shell. Sedangkan Wissel adalah pilot Angkatan laut kerajaan Belanda.
Dalam perkembangannya, Wissel akhirnya ditetapkan menjadi pemimpin ekspedisi pendakian Gunung Cartensz ini. Ketiganya memulai dengan melakukan observasi lewat udara.
Dari atas pesawat tua, mereka kemudian merencanakan jalur ekspedisi mereka. Dari gambaran yang mereka dapatkan, mereka kemudian menyusun rencana selanjutnya.
"Suatu hari ketika kami mendapat pesawat udara amfibi tua jenis Sikorsky, kami melakukan penerbangan pengintaian dan melihat pegunungan, dan perlahan-lahan, satu per satu rencana mulai dikembangkan," kata Dozy seperti dikutip dari buku karya Poulgrain pada 1982.
Pada 23 Oktober 1936, rencana mereka mulai dirintis. Colijn dan Dozy dengan menggunakan kapal Albatros menuju ke Aika (Timika). Wilayah ini, saat itu dikenal sebagai gudang timah yang terisolir milik Belanda.
Sedangkan Wissel menyiapkan kebutuhan logistic mereka. Logistik itu diterjunkan ke Aika, dibantu sejumlah orang pengangkut barang (porter).
Pendakian puncak Cartenz Piramyd akhirnya dimulai. Rombongan mereka secara keseluruhan mencapai 38 orang dari Kalimantan. Namun satu persatu dari mereka tak kuat bertahan di perjalanan.
Di ketinggian 4.000 meter, Dozi, Colijn dan Wissel menjumpai padang rumput seperti yang pernah mereka lihat saat observasi menggunakan pesawat. Dari sini juga mereka menemukan pegunungan yang sekarang dinamai dengan Erstberg.Di sini Dozy mengatakan bahwa, tidak ada batu lain di Erstberg kecuali bijih. Dalam kondisi basah dan dingin di ketinggian itu, bau bijih bahkan disebutnya bisa dirasakan hingga di seluruh pedesaan bahkan saat gunung belum terlihat.Berikutnya, sekitar dua kilometer dari Erstberg, Dozy dkk menemukan gunung yang saat ini dikenal sebagai Gunung Gersberg. Gunung inilah yang kemudian digambarkan sebagai gudang emas terbesar di dunia.Mereka mencatat dan mempelajari semua yang mereka lihat di perjalanan. Namun tujuan utama mereka mencapai puncak tertinggi Carztensz Piramyd berlanjut. Pada 5 Desember 1936 mereka bertiga mencapai Puncak Cartensz.Sekembalinya dari puncak Carztensz, mereka kemudian menyusun laporan. Apa yang mereka temukan tersimpan rapat di perpustakaan belanda.Pemerintah Belanda dan para pemimpin perusahaan minyak kala itu menyimpan rapat apa yang ditemukan Dozy, Colijn dan Wissel. Hingga pada 1959 Direktur Eksplorasi Freeport Sulphur Company, Forbes Wilson mengambil tindakan.
BACA JUGA: Pemerintah Putuskan Freeport Bisa Ekspor Tembaga Setelah Juni 2023Forbes Wilson akhirnya bertemu dengan Jan Van Gruisen, Managing Director Oost Maatchappij, perusahaan Belanda yang mengeksploitasi batu bara di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara. Berikutnya mereka menyusun ekspedisi lagi ke Cartensz.Dari perjalanannya ke Cartensz, Forbes Wilson membuat buku 'The Conquest of Cooper Mountain'. Isinya mencakup bagaimana dirinya menjelajah gunung Esrtberg dan Grestberg.Ekspedisi Forbes Wilson sendiri dilakukan karena rasa penasaran. Sebab Freeport menganggap laporan Dozy yang ada di Perpustakaan Nasional Belanda, tidak benar.broto, Jakarta, Selasa (5/9/2017).Berikutnya Tahun 1967 pemerintah Indonesia dan Freeport Sulphur, yang kini menjadi Freeport McMoran menandatangani kontrak karya pertambangan pertama. Freeport mendapat hak melakukan penambangan di Irian Barat.Kontrak ini tidak lain dilakukan untuk mengekplorasi gunung Erstberg dan Grestberg. Dari sinilah, cerita tentang adanya gunung emas di Papua mulai dipercaya.
Murianews, Kudus – Emas adalah logam mulia yang mahal harganya. Di Indonesia emas kadang-kadang sering dihubung-hubungkan dengan Papua. Lalu, bagaimana ceritanya, ada emas di Papua?
Soal ini disinggung oleh Greg Poulgrain dalam buku karyanya 'The Incubus of Intervention, Conflicting Indonesia Strategies of John F Kennedy and Allen Dulles'. Greg mengulasnya, kenapa sampai akhirnya diketahui ada emas di Papua.
Cerita tentang emas di Papua dimulai dari sosoak Jean Jacquez Dozy, seorang geolog asal Belanda, yang bertugas di Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM), Babo, Papua Barat, pertengahan 1936.
Saat berada di kantornya, Jean konon dibuat jengkel, lantaran adanya berita mengenai rencana orang-orang Jepang yang ingin mencapai puncak Cartensz (Jaya Wijaya) di Papua. Berita ini membuatnya terusik.
Berikutnya, Jean Jacquez Dozy dan dua rekannya AH Colijn dan Franz Wissel langsung menyusun rencana. Mereka ingin mendahului apa yang direncanakan orang-orang Jepang ini.
"Sehingga disepakati bahwa mereka sebagai orang Belanda harus menjadi orang pertama yang mendaki Gunung Cartensz," demikia disebutkan Greg Poulgrain dalam buku karyanya.
Dozy adalah ahli geologi minyak dan bumi, sementara, Colijn adalah manajer anak perusahaan Royal Ducth Shell. Sedangkan Wissel adalah pilot Angkatan laut kerajaan Belanda.
Dalam perkembangannya, Wissel akhirnya ditetapkan menjadi pemimpin ekspedisi pendakian Gunung Cartensz ini. Ketiganya memulai dengan melakukan observasi lewat udara.
Dari atas pesawat tua, mereka kemudian merencanakan jalur ekspedisi mereka. Dari gambaran yang mereka dapatkan, mereka kemudian menyusun rencana selanjutnya.
"Suatu hari ketika kami mendapat pesawat udara amfibi tua jenis Sikorsky, kami melakukan penerbangan pengintaian dan melihat pegunungan, dan perlahan-lahan, satu per satu rencana mulai dikembangkan," kata Dozy seperti dikutip dari buku karya Poulgrain pada 1982.
Pada 23 Oktober 1936, rencana mereka mulai dirintis. Colijn dan Dozy dengan menggunakan kapal Albatros menuju ke Aika (Timika). Wilayah ini, saat itu dikenal sebagai gudang timah yang terisolir milik Belanda.
Sedangkan Wissel menyiapkan kebutuhan logistic mereka. Logistik itu diterjunkan ke Aika, dibantu sejumlah orang pengangkut barang (porter).
Pendakian puncak Cartenz Piramyd akhirnya dimulai. Rombongan mereka secara keseluruhan mencapai 38 orang dari Kalimantan. Namun satu persatu dari mereka tak kuat bertahan di perjalanan.
Di ketinggian 4.000 meter, Dozi, Colijn dan Wissel menjumpai padang rumput seperti yang pernah mereka lihat saat observasi menggunakan pesawat. Dari sini juga mereka menemukan pegunungan yang sekarang dinamai dengan Erstberg.
Di sini Dozy mengatakan bahwa, tidak ada batu lain di Erstberg kecuali bijih. Dalam kondisi basah dan dingin di ketinggian itu, bau bijih bahkan disebutnya bisa dirasakan hingga di seluruh pedesaan bahkan saat gunung belum terlihat.
Berikutnya, sekitar dua kilometer dari Erstberg, Dozy dkk menemukan gunung yang saat ini dikenal sebagai Gunung Gersberg. Gunung inilah yang kemudian digambarkan sebagai gudang emas terbesar di dunia.
Mereka mencatat dan mempelajari semua yang mereka lihat di perjalanan. Namun tujuan utama mereka mencapai puncak tertinggi Carztensz Piramyd berlanjut. Pada 5 Desember 1936 mereka bertiga mencapai Puncak Cartensz.
Sekembalinya dari puncak Carztensz, mereka kemudian menyusun laporan. Apa yang mereka temukan tersimpan rapat di perpustakaan belanda.
Pemerintah Belanda dan para pemimpin perusahaan minyak kala itu menyimpan rapat apa yang ditemukan Dozy, Colijn dan Wissel. Hingga pada 1959 Direktur Eksplorasi Freeport Sulphur Company, Forbes Wilson mengambil tindakan.
BACA JUGA: Pemerintah Putuskan Freeport Bisa Ekspor Tembaga Setelah Juni 2023
Forbes Wilson akhirnya bertemu dengan Jan Van Gruisen, Managing Director Oost Maatchappij, perusahaan Belanda yang mengeksploitasi batu bara di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara. Berikutnya mereka menyusun ekspedisi lagi ke Cartensz.
Dari perjalanannya ke Cartensz, Forbes Wilson membuat buku 'The Conquest of Cooper Mountain'. Isinya mencakup bagaimana dirinya menjelajah gunung Esrtberg dan Grestberg.
Ekspedisi Forbes Wilson sendiri dilakukan karena rasa penasaran. Sebab Freeport menganggap laporan Dozy yang ada di Perpustakaan Nasional Belanda, tidak benar.
broto, Jakarta, Selasa (5/9/2017).
Berikutnya Tahun 1967 pemerintah Indonesia dan Freeport Sulphur, yang kini menjadi Freeport McMoran menandatangani kontrak karya pertambangan pertama. Freeport mendapat hak melakukan penambangan di Irian Barat.
Kontrak ini tidak lain dilakukan untuk mengekplorasi gunung Erstberg dan Grestberg. Dari sinilah, cerita tentang adanya gunung emas di Papua mulai dipercaya.