Kamis, 23 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Tidak bisa dipungkiri, malam jumat memang menjadi hari yang sacral bagi masyarakat jawa, terlebih pada saat malam Jumat pahing. Sebab, pada malam jumat pahing dianggap memiliki makna tersendiri oleh sebagian masyarakat Jawa.

Kombinasi hari Jumat yang dianggap mulia dalam Islam dengan pasaran Pahing dalam kalender Jawa melahirkan berbagai mitos yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam budaya Jawa, sistem kalender tidak hanya terdiri dari tujuh hari dalam sepekan, tetapi juga lima hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Perpaduan keduanya menghasilkan siklus weton yang dipercaya memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Berikut ini adalah mitos yang berkembang di ditengah masyarakat Jawa pada saat malam Jumat Pahing:

1. Malam yang Baik untuk Tirakat dan Doa

Sebagian masyarakat Jawa meyakini malam Jumat Pahing sebagai waktu yang tepat untuk meningkatkan ibadah, berdoa, membaca tahlil, atau melakukan tirakat. Malam ini dipercaya memiliki suasana spiritual yang lebih kuat dibanding malam biasa sehingga sering dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

2. Waktu untuk Menghormati Leluhur

Di sejumlah daerah di Jawa, malam Jumat Pahing identik dengan tradisi ziarah kubur dan kirim doa kepada leluhur. Kepercayaan ini berangkat dari nilai penghormatan kepada orang tua dan nenek moyang yang telah meninggal dunia. Tradisi tersebut lebih menonjol sebagai budaya sosial daripada ajaran agama.

3. Pantangan Keluar Malam

Sebagian orang tua dahulu melarang anak-anak bepergian jauh pada malam Jumat Pahing. Mereka percaya malam tersebut lebih ”wingit” atau sakral sehingga perlu menjaga perilaku dan ucapan. Meski demikian, keyakinan ini lebih bersifat mitos budaya dan tidak memiliki dasar ilmiah.

4. Waktu untuk Membersihkan Pusaka

Di lingkungan yang masih memegang tradisi Jawa, malam Jumat Pahing kerap digunakan untuk membersihkan keris atau benda pusaka lainnya. Ritual tersebut dipercaya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus simbol introspeksi diri.

  • 1
  • 2
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Edukasi Terkini

Terpopuler