Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Umumnya, sungkeman dilakukan oleh anak-anak kepada orang tua atau orang muda kepada orang yang lebih tua. Biasanya, sungkeman dilakukan pada acara-acara penting seperti pernikahan dan Lebaran.
Sungkeman bertujuan untuk meminta maaf atas kesalahan ucapan atau tindakan yang dilakukan agar dosa dan kesalahan dapat terhapus serta mengharapkan doa kebaikan dari orang yang dituakan.
Momen sungkeman saat lebaran merupakan bagian dari tradisi silaturahmi untuk saling memaafkan. Pada mulanya dikembangkan oleh keraton-keraton di Jawa.
Menurut cerita, tradisi sungkeman sewaktu lebaran bermula dari Kasunanan Surakarta dan Puro Mangkunegaran.
Sungkeman dengan melibatkan kerabat, abdi dalem dan rakyat pernah dilakukan pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara I (1757-1795). Setelah salat Idulfitri, Mangkunegara I berkumpul dan saling bermaafan.
Diawali sungkeman para istri dan putra dalem dilanjutkan para kerabat, punggawa dan rakyat. Tradisi ini menggambarkan kedekatan raja dengan kerabat, punggawa dan rakyat.
Tradisi sungkeman juga dilaksanakan di lingkungan Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman. Bentuk dan pelaksanaannya sesuai ketentuan adat yang berlaku.
Pihak- pihak yang terlibat harus mengenakan pakaian Jawa lengkap. Raja duduk di singgasana dan yang hadir duduk bersila, diawali dengan sembah kemudian sungkem sembari mengucapkan kalimat maaf yang sudah baku.




