Lebih dari itu, masjid ini kerap disimbolkan sebagai penanda jejak dakwah Islam melalui pendekatan budaya, dari Gapura Padureksan hingga tradisi Sedekah Sego Kepel dan Ampyang Maulid yang masih terjaga.
Bagi warga Loram, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat sejarah dan ruang hidup tradisi. Warga mengenalnya sebagai Masjid Wali Loram, sementara secara administratif bernama Masjid Jami At-Taqwa.
Nama At-Taqwa muncul pada masa Orde Baru saat pemerintah mewajibkan setiap masjid memiliki nama resmi. Para sesepuh bermusyawarah dan melakukan salat istikharah sebelum menentukan nama tersebut.
”Dari beberapa sesepuh yang istikharah mendapat isyarat ayat tentang masjid yang didirikan atas dasar takwa. Akhirnya disepakati namanya Al-Taqwa,” ujar Afroh Amanudin, takmir masjid, Sabtu (28/2/2026).
Sebutan Masjid Wali tetap lebih melekat. Masjid ini diyakini sebagai peninggalan Sultan Hadirin, yang dalam tradisi lisan disebut murid sekaligus menantu Sunan Kudus.
Murianews, Kudus – Di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berdiri sebuah masjid tak sekadar menjadi tempat ibadah.
Lebih dari itu, masjid ini kerap disimbolkan sebagai penanda jejak dakwah Islam melalui pendekatan budaya, dari Gapura Padureksan hingga tradisi Sedekah Sego Kepel dan Ampyang Maulid yang masih terjaga.
Bagi warga Loram, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat sejarah dan ruang hidup tradisi. Warga mengenalnya sebagai Masjid Wali Loram, sementara secara administratif bernama Masjid Jami At-Taqwa.
Nama At-Taqwa muncul pada masa Orde Baru saat pemerintah mewajibkan setiap masjid memiliki nama resmi. Para sesepuh bermusyawarah dan melakukan salat istikharah sebelum menentukan nama tersebut.
”Dari beberapa sesepuh yang istikharah mendapat isyarat ayat tentang masjid yang didirikan atas dasar takwa. Akhirnya disepakati namanya Al-Taqwa,” ujar Afroh Amanudin, takmir masjid, Sabtu (28/2/2026).
Sebutan Masjid Wali tetap lebih melekat. Masjid ini diyakini sebagai peninggalan Sultan Hadirin, yang dalam tradisi lisan disebut murid sekaligus menantu Sunan Kudus.
Penyebaran agama islam...
Dikisahkan, Sultan Hadirin datang sebagai pendatang bernama Raden Toyib. Ketekunan dan akhlaknya membuat Ratu Kalinyamat tertarik dan kemudian menikah dengannya. Ia lalu dikenal sebagai Sultan Hadirin dan mendampingi pemerintahan Kalinyamat.
Atas persetujuan Ratu Kalinyamat, ia menikah dengan Dewi Projo Binabar, putri Sunan Kudus, dan diminta membantu menyebarkan Islam di wilayah selatan Kudus yang saat itu masih kuat dipengaruhi Hindu.
Sekitar tahun 1594, Sultan Hadirin mendirikan gapura di bagian depan kompleks yang kelak menjadi Masjid Wali Loram. Bangunan ini diyakini sebagai penanda awal syiar Islam di kawasan Loram.
Pendekatannya tidak konfrontatif. Gapura dibuat menyerupai pura agar selaras dengan budaya setempat. Gapura itu juga dimaknai sebagai “pintu tobat”, yang berarti ampunan, simbol ajakan meninggalkan keyakinan lama dan memasuki Islam.
Dalam pembangunannya, Sultan Hadirin dibantu ayah angkatnya semasa di Campa, seorang ahli ukir bernama Tjie Hwio Gwan atau Sungging Badar Duwung. Sentuhan ukiran dan struktur bangunannya memperlihatkan akulturasi budaya dalam proses dakwah.
Setelah masyarakat mulai menerima, barulah masjid dibangun di bagian belakang sebagai pusat ibadah.
Sejumlah peninggalan...
Masjid Wali Loram memiliki sejumlah peninggalan pada masa Sultan Hadirin yang masih dijaga hingga kini, seperti Sumur Kahuripan yang dipercaya menjadi sumber air pertama serta bedug kecil tua yang dahulu digunakan sebagai penanda waktu salat.
Selain itu, Gapura Padureksan kini menjadi ikon. Lima pintunya dimaknai sebagai lima rukun Islam. Tiga lorong utama melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Enam bagian kayu di atasnya menyimbolkan enam rukun iman, sementara susunan bata di tengah dipercaya berjumlah 99 sebagai lambang Asmaul Husna.
Di bagian atas gapura terdapat ornamen menyerupai peti yang dimaknai sebagai simbol kematian. Disisi lain, puncak atap masjid berdiri mustoko bersisi empat mengarah ke penjuru mata angin, melambangkan bahwa siapa pun dari arah mana pun datang, tujuannya tetap satu, beribadah kepada Allah.
Bangunan utama masjid pernah dipugar total pada 1990 karena kondisi sudah rapuh dan belum adanya regulasi ketat cagar budaya saat itu.
”Waktu itu belum ada aturan cagar budaya seperti sekarang. Jadi memang dilakukan pemugaran total karena bangunannya sudah rapuh. Yang penting masjid tetap bisa dipakai ibadah,” jelasnya.
Dipertahankan..
Meski bangunan masjid berubah, gapura tetap dipertahankan sebagai bagian paling bersejarah dan menjadi ciri khas Loram. Selain bangunan fisik, warisan dakwah hidup dalam tiga tradisi.
Sedekah Sego Kepel dilakukan warga yang memiliki hajat dengan membawa nasi kepal berbungkus daun jati untuk didoakan. Ada pula Kirab Nganten, prosesi pengantin mengelilingi gapura sebelum masuk masjid sebagai simbol doa keberkahan.
Setiap 12 Rabiul Awwal, masyarakat menggelar Ampyang Maulid untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan lintas generasi.
”Masjid ini bukan hanya tempat salat, tapi pusat tradisi dan sejarah masyarakat Loram. Dari dulu sampai sekarang, tradisinya masih dijaga,” kata Afroh.
Di tengah modernisasi, Masjid Wali Loram tetap berdiri sebagai pengingat bahwa Islam pernah hadir melalui pendekatan yang lembut, lewat pintu budaya dan kearifan lokal.
Reporter: Wiwid Widia Yulhendrik