Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Indonesia dikenal memiliki banyak suku bangsa dan etnis dalam masyarakatnya. Salah satunya adalah Suku Bajo, yang saat ini tinggal di wilayah Timur Indonesia.

Suku Bajo di Indonesia Timur sebenarnya bukanlah masyarakat asli di kawasan ini. Nenek moyang mereka berasal dari kepulauan di Filipina.

Mereka dikenal sebagai kelompok etnik maritim ulung yang memiliki jiwa no maden, menjelajahi lautan. Suku Bajo sendiri, saat ini tidak hanya ada di Wilayah Timur Indonesia terutama di Sulawesi Utara.

Tetapi dari banyak literatur, Suku Bajo hingga saat ini ada dan hidup berkelompok di beberapa wilayah. Selain di Indonesia, Suku Bajo juga diketahui ada di sejumlah wilayah di Asia Tenggara.

Mulai di Filipina, Malaysia, dan Indonesia, Suku Bajo ada dan masih terus melanjutkan tradisi kemaritiman mereka. Sejak ratusan tahun lalu, mereka memang dikenal sebagai masyarakat maritim yang gemar berpetualang di lautan.

Perkampungan suku Bajo, di seluruh kawasan Asia Tenggara termasuk di Indonesia Timur, merupakan kawasan perairan laut. Mereka mendirika rumah-rumah panggung di atas perairan.

Kehidupan Suku Bajo juga tidak bisa dipisahkan dari laut. Mereka hidup dari laut, dengan manangkap ikan menggunakan cara dan perlengkapan yang sudah menjadi tradisi turun temurun.

Dilansir dari 20detik.com, Suku Bajo adalah penggembara lautan. Mereka memiliki ketrampilan atau cara mencari ikan yang bisa dikatakan sangat ekstrem.

Turun-Temurun...

Kemampuan ini mereka dapatkan secara turun-temurun dalam kehidupan kelompok Suku Bajo. Kemampuan menyelam adalah ciri khas mereka, yang bahkan sudah diakui oleh dunia.

Pelaut-pelaut Suku Bajo dikenal memiliki kemampuan menyelam sangat luar biasa. Mereka bisa menahan nafas dalam air dalam waktu lama. Bahkan ada literatur yang menyebut hingga 13 menit di dalam air.

Ketrampilan berburu ikan dengan cara menyelam untuk kemudian menombak ikan, adalah trade mark suku Bajo. Jurnal-jurnal internasional bahkan sudah sering melaporkannya sebagai salah satu keunikan sebuah etnis yang ada di dunia.

Suku Bajo, seperti dilansir dari Kanal YouTube Kementrian Kelautan dan Perikanan, sejaranya berasal dari kepulauan Zulu di Filipina. Kemampuannya berlayar membuat mereka akhirnya tersebar di sejumlah wilayah di Asia Tenggara.

Dari kegemarannya dan kehandalan mereka mengarungi lautan, Suku Bajo akhirnya menjadi kelompok-kelompok etnis di Malaysia, Thailand, Filipina dan Indonesia. Suku Bajo yang ada di Indonesia, kini menjadi yang terbesar dan terkenal.

Dalam tradisinya yang masih hidup hingg saat ini, Suku Bajo dikenal memiliki keberanian luar biasa sebagai pelaut. Mereka memiliki perahu khas yang dikenal dengan nama lepa-lepa.

Di masa lampau Lepa-Lepa inilah yang digunakan Suku Bajo sebagai tempat mereka tidur, memasak dan bertahan hidup di lautan. Namun kini, seiring perkembangan watu, mereka sudah mendirikan rumah sendiri.

Meski demikian rumah yang mereka dirikan tetap tidak jauh dari laut. Rumah-rumah panggung mereka dirikan di atas perairan laut. Biasanya di perairan dangkal yang dipenuhi karang.

Penyelam Ulung...

Dari kedekatannya dengan laut, Suku Bajo pada akhirnya memiliki kelebihan dalam kemampuan mereka mencari ikan. Pelaut Suku Bajo dikenal memiliki kemampuan menyelam yang luar biasa.

Mereka bisa menahan nafas sangat lama di dalam air. Kemampuan itu bahkan bisa dikatakan melebihi kemampuan manusia pada umumnya.

Suku Bajo di Indonesia sebagian besar memeluk agama Islam. Tetapi dalam kehidupannya sehari-hari mereka tetap memiliki konsep kehidupan yang dikenal sebagai “Mammao Ta’u Bajo” atau “Kita Adalah Orang Bajo”.

Dalam konsep ini, masyarakat Suku Bajo memiliki kehidupan yang berpusat pada lautan. Seluruh adat istiadat, aturan sosial dan kepercayaan mereka selalu menjadikan laut sebagai acuannya.

Tradisi-tradisi laut, kepercayaan tentang laut dan hal-hal yang berhubungan dengan laut masih tetap mereka jalani meski Islam menjadi agama mereka. Semua itu menjadikan suku Bajo menjadi unik.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler