Saat menyelam, pembuluh darah di area kaki dan tangan para penyelam suku Bajo menyempit secara dratis. Lalu aliran darah yang mengandung oksigen murni, secara otomatis difokuskan untuk organ vital seperti otak, jantung dan paru-paru.
Selain itu, mutasi genetik juga diyakini terjadi pada tubuh para pelaut Suku Bajo, terutama dalam mencegah penumpukan karbon dioksida berlebih pada aliran darahnya.
Kemampuan ini membuat para pelaut suku Bajo tidak mudah pingsan atau mengalami kerusakan jaringan saat pasokan oksigen minim. Itulah mengapa pada akhirnya mereka mampu bertahan di bawah air tanpa bernafas.
Murianews, Kudus – Di Indonesia Timur, ada etnis yang unik dengan cirikhas sebagai masyarakat maritim. Namanya adalah Suku Bajo, yang dikenal sebagai jago selam tiada tanding.
Dilansir dari BBC, sebuah penelitian ilmiah yang dituangkan dalam jurnal Cell, menyebut para pelaut Suku Bajo telah mengalami evolusi dan adaptasi genetik. Kehidupan mereka yang selalu erat dengan laut, membuat mereka berubah menjadi penyelam alami yang luar biasa.
Mereka, para pelaut Suku Bajo bahkan dijuluki sebagai ‘manusia ikan’ karena secara nyata mampu menyelam hingga belasan menit dalam sekali tarikan nafas. Ini nyata, dan bukan mengada-ada.
Ada beberaa perubahan genetik yang dialami masyarakat Suku Bajo. Mereka diketahui memiliki ukuran limpa setengah kali lebih besar dibanding manusia biasa.
Dengan limpa yang lebih besar, para pelaut Suku Bajo diyakini mendapatkan pasokan oksigen lebih saat menyelam. Limpa mereka berkontraksi kuat, untuk bisa memompa cadangan oksigen ekstra ke aliran darahnya.
Hebatnya, limpa besar ini selalu dimiliki orang-orang Suku Bajo yang dilahirkan. Buka karena latihan bertahun-tahun, seperti yang sempat diduga sebelumnya.
Ukuran Limpa yang besar ini, menurut penelitian ilmiah yang dilakukan terjadi karena adanya perubahan gen pada DNA suku Bajo. Ada variasi tertentu pada gen mereka yang berhubungan dengan pelepasan hormon tiroid pada pembentukan limpa mereka sejak dalam kandungan.
Pada gen DNA suku Bajo lainya, juga ada variasi yang muncul. Gen ini memicu kebiasaan saat menyelam pada mereka.
Hipoksia...
Saat menyelam, pembuluh darah di area kaki dan tangan para penyelam suku Bajo menyempit secara dratis. Lalu aliran darah yang mengandung oksigen murni, secara otomatis difokuskan untuk organ vital seperti otak, jantung dan paru-paru.
Selain itu, mutasi genetik juga diyakini terjadi pada tubuh para pelaut Suku Bajo, terutama dalam mencegah penumpukan karbon dioksida berlebih pada aliran darahnya.
Kemampuan ini membuat para pelaut suku Bajo tidak mudah pingsan atau mengalami kerusakan jaringan saat pasokan oksigen minim. Itulah mengapa pada akhirnya mereka mampu bertahan di bawah air tanpa bernafas.